Jakarta, SIARD – Sebagian besar pemilik gedung perkantoran di Jakarta, masih menerapkan pendekatan yang penuh kehati-hatian, seiring dengan belum kokohnya pemulihan pasar.
Di sisi lain, kondisi pasar yang masih condong kepada penyewa dan investor, terus dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengamankan ruang sewa. Terutama, di gedung berkualitas tinggi, terkelola baik dan menawarkan tarif sewa yang kompetitif.
Pasar perkantoran masih cenderung waita and see, meskipun permintaan perlahan pulih. Para pengembang masih menganggap, Jakarta sebagai pusat bisnis utama di Indonesia. Namun, aktivitas konstruksi di masa mendatang diperkirakan tetap selektif dan dilakukan secara bertahap, dengan kualitas desain dan memenuhi kebutuhan penyewa menjadi fokus utama.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, tingkat permintaan pasar perkantoran di sepanjang 2025, masih didominasi oleh perpanjangan masa sewa. Sebagai tambahan, jumlah perusahaan yang melakukan relokasi juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2024).
“Hal ini diharapkan menjadi sinyal penting, semakin meningkatnya kepercayaan korporasi,” ujarnya dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa 3 Februari 2026.
Baca Juga: Tarif Sewa Perkantoran Jakarta Tumbuh Tiga Persen
Ferry menambahkan, selain itu, aktivitas ekspansipun menjadi lebih menonjol dibandingkan pengurangan ruang, menandakan pergeseran dari strategi efisiensi ruang pascapandemi menuju siklus pertumbuhan yang lebih sehat.
“Para penyewa, secara aktif terus memanfaatkan kondisi pasar untuk mendapatkan harga sewa yang lebih kompetitif, khususnya saat perpanjangan sewa atau pindah ke gedung dengan kualitas yang lebih baik. Kecenderungan ini secara perlahan memperbaiki kinerja tingkat hunian gedung perkantoran,” ujarnya.
Di tahun-tahun mendatang, lanjut Ferry, pergerakan tarif sewa perkantoran di Jakarta akan sangat dipengaruhi oleh tingkat keterisian, terutama oleh gedung-gedung berkualitas tinggi dengan lokasi strategis.
Gedung premium dan Grade A, kata dia, termasuk yang berada di luar CBD, seiring dengan proyeksi membaiknya tingkat hunian, berpotensi memberikan kepercayaan kepada pemilik gedung untuk melakukan penyesuaian tarif sewa.
Sementara itu, efisiensi biaya tetap menjadi pertimbangan utama bagi para penyewa dalam menetukan gedung perkantoran yang akan dihuni. Penyewa juga mempertimbangkan antara harga sewa dan berbagai insentif yang ditawarkan, seperti masa bebas sewa dan dukungan biaya fit-out.
“Saat ini, selisih antara penawaran tarif dasar sewa dan yang ditransaksikan umumnya berkisar 10 hingga 30 persen, tergantung ukuran unit dan posisi negosiasi penyewa,” ujar Ferry. (asp)
Baca Juga: Tips Pemilik Perkantoran Buat Penyewa Betah
